Seadanya

Suatu sore yang sudah terjadwal,

Di depan mejaku sudah tersedia sebakul penuh nasi putih, semangkuk sayur asam, ikan bandeng dan tempe goreng, secobek sambal terasi, setoples krupuk dan segelas teh hangat.

Dan seperti biasa, aku selalu tak kuasa untuk menolak. Pak Badrin akan segera menampakkan raut muka kecewa seperti saat pertama kali aku menolak sajian makanan yang sudah disiapkannya.

Ya, seharusnya beliau tak perlu repot-repot menyiapkan makanan untukku, toh sebagai mahasiswa KKN yang rutin bertugas di Dukuh Pak Badrin seminggu dua kali, sebelum berangkat aku sudah mengisi perutku dengan aneka menu masakan Bu Lurah.

Tapi itulah Pak Badrin. Ia tetap memaksa.

“Seadanya kok, Mas...”
_________________________

Suatu sore yang tidak terjadwal,

Pak Badrin tergopoh-gopoh menghampiriku, tak menyangka aku datang mendadak.

Kuintip dari balik korden yang sedikit terbuka; Sebakul nasi jagung dan setoples krupuk....


0 komentar:

Poskan Komentar