Menungguiku

(1995-1998)

Sebentar saja setumpuk rokok berbagai merk sudah memenuhi laci kamar ayah
Beberapa teman memberinya
Dan seperti biasa ayah menyuruhku membawa rokok-rokok itu ke Warung Bu Atminah
“Ya Ayah... Tapi tunggui aku di luar..”
Ayah mengangguk
Ia tahu aku selalu ketakutan pada keranda yang diletakkan di dekat rumah kami...
Tak perlu banyak penjelasan, aku menyerahkan rokok-rokok titipan ayah pada Bu Atminah
Penjual baik hati itu menggantinya dengan beberapa lembar uang
Lalu aku segera berjalan pulang menyisir gelap malam
Oh, ayah tak ada...
Ayah ke mana?
Ayah tak nampak di tempat duduk beton depan rumah seperti biasanya saat menungguku pulang
Ayah jahat, tak menungguiku!!!!
Aku terisak lari ke dalam rumah
Diiringi pikiran ganjil tentang keranda jahat
Di depan pintu langkahku terhenti
Ayah menyambut di ruang tamu, melihat wajah manyunku
Ia tersenyum, lalu tertawa mengelus rambut ikalku


0 komentar:

Poskan Komentar