Pssttt,, Jangan Beritahu Ibu!!!

Suatu siang yang terik saat itu
Di pasar kumal yang lima tahun kemudian berubah jadi megah
Ayah bercakap dengan seorang penjual
Sesekali menunjuk deretan kompor minyak yang berjajar di depan toko
Ayah menyuruhku memilih warna
Jari telunjukku menuding si biru
Ayah setuju, menyodorkan selembar lima ribu
Lalu segera beranjak, menenteng bungkusan kompor pilihanku
Di atas motor merah bututnya ia berbisik,
“Kalau ditanya ibu, bilang tiga ribu ya...”
***
Ayah suka sekali dengan bunga
Dan rajin membeli pot bunga di perbatasan kota kami
Di atas motor tuanya aku selalu kebagian mengapit pot baru itu
Di tengah-tengah, antara aku dan ayah
“Pssst... Yang ini seribu lima ratus saja..”
Aku mengangguk
Meremas nota seharga dua ribu dari si penjual bunga
Lalu melemparnya ke jalan
***
Tahu makanan kesukaan kami?
Nasi pecel!
Kadang-kadang ayah membawaku ke warung nasi pecel langganannya
Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan saat bertemu ibu di rumah nanti
“Nanti di rumah kita makan lagi ya...”, kata ayah

0 komentar:

Poskan Komentar