Tentang Pacar Psikopat dan Sebuah Cerita


Punya pacar, selayaknya membuat kita lebih happy dan bersemangat menjalani hidup. Pacar yang sayang sama kita, pacar yang bisa menjadi tempat sharing dan mengeluarkan uneg-uneg, serta tentunya pacar yang bisa mengarahkan kita dan membawa kita ke perubahan yang lebih baik. Wow, seneng ya punya pacar kayak gitu! Memang seharusnya seorang pacar bukan cuma bisa jadi pacar, tapi juga bisa merangkap jadi best friend kita.
Lalu, gimana kalo pacar itu justru pacar yang psikopat? Maksud saya, punya pacar tapi suka melakukan KDP (Kekerasan dalam Pacaran). Ya nampar lah, mukul lah, nendang lah, dan jenis kekerasan lainnya. Mungkin bisa ditambah lagi dengan pacar yang suka memberikan tekanan dan ancaman. So, lengkaplah,  fisik dan mental jadi sesak!
Saya dulu sempat yakin tak akan ada seorangpun yang akan bertahan terlalu lama dengan seorang pacar yang psikopat. Lagian, siapa juga sih yang mau berlama-lama pacaran sama orang yang  sukanya nggebukin mulu? Yah, itu anggapan saya dulu, sampai akhirnya saya menyaksikan kenyataan lain langsung dengan mata kepala saya sendiri.
Penasaran? Simak cerita saya yach!
Sebut saja dia Rina. Cantik, posturnya lumayan tinggi: 165 cm, badannya kurus, kulitnya putih bersih dan kemana-mana dia selalu memakai pakadian seksi (bahkan tak jarang dia memakai rok mini) dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Rina teman satu kamar saya waktu saya masih kuliah semester 5. Orangnya baik, ramah, rajin, tapi agak lebay! Hahahahhhh,,,,

Saya belum terlalu mengenal Rina (kebetulan waktu itu saya masih penghuni baru di kos) ketika tiba-tiba suatu malam Dia pulang ke kos sambil menangis. Wajahnya lebam, dan tangannya biru-biru. Dia juga menunjukkan  beberapa helai rambutnya yang rontok. Cukup banyak. Nampaknya bukan sekedar rontok biasa. Saya sangat terkejut melihat keadaannya. Lalu saya menanyainya apa yang baru saja terjadi. Dia bercerita kalau dia baru saja bertengkar dengan pacarnya. Entah bertengkar karena apa. Karena emosi, pacarnya menonjok mukanya, melemparnya dengan sikat gigi dan menjambak rambutnya. Kulit Rina yang putih semakin jelas memperlihatkan hasil keganasan pacarnya. saya sungguh tidak menyangka ada orang setega itu. Jelas, karena saya belum pernah berhadapan dan melihat orang yang habis dianiaya pacar secara langsung. Namun anehnya, saat saya prihatin dan mencoba menenangkan Rina, justru teman-teman kos yang lain yang sudah lebih lama menetap di kos itu hanya melihat. Tampaknya mereka tidak ada rasa empati sama sekali. Seseorang dari mereka justru membisiki saya, “Alah, udah bdiasa.. besok-besok kamu akan kebal sendiri mbak!”
Setelah kejadian itu, saya mengira Rina akan ‘bermusuhan’ dengan pacarnya untuk jangka waktu yang agak lama. Tapi saya salah besar! Keesokan harinya, dia dan pacarnya  sudah duduk manis lagi di teras kos, seperti tak pernah ada perang dunia semalam. Ckckck...
Tiga hari berikutnya, dia tampak berdandan cantik dengan rok mini khasnya. Dia memamerkan pada saya sweater barunya yang baru dibeli pagi tadi di sebuah distro terkenal di Semarang. Tak lama kemudian dia pergi entah ke mana. Dan sekali lagi saya dikejutkan dengan kepulangannya dengan mukanya yang tak karuan. Sweater barunya tak berbentuk lagi, sobek di sana-sini. Well, saya cuma bisa prihatin dan berusaha menenangkan dia. Saya cuma bisa ngomong supaya dia memikirkan ulang hubungannya dengan pacarnya yang sudah keterlaluan itu. pacar kayak gitu tuh gak perlu dipertahanin.  Baru pacar aja udah kayak gitu. Bagaimana nanti kalau sudah jadi istri? Bisa-bisa dibunuh!. Tampaknya dia mau mendengarkan perkataan saya. Dia bilang mau putus saja daripada terus-terusan diperlakukan seperti itu. saya tentu saja mendukung keputusannya, daripada terus-terusan menderita!
Tapi nampaknya saya harus lebih percaya dengan perkataan teman-teman saya tempo hari, kalau lama-lama saya akan kebal sendiri. Ternyata mereka benar. Hari-hari berikutnya Rina tetap lengket dengan pacarnya. Hari ini ketawa-ketiwi berdua, besoknya nangis-nangis. Pagi hari mesra, malamnya babak belur. Dia tetap bercerita dan mengeluh sama saya, katanya habis dipukul pakai gebukan nyamuk lah, sengaja dijatuhin dari motor lah, dilempar inilah itulah. Tapi kali ini dan hari-hari berikutnya saya cuma bisa jadi pendengar setia tanpa mau lagi banyak komentar. Toh saya sudah tau nanti pada akhirnya akan seperti apa. Pasti siklus ‘mesra,berantem,mesra,berantem’ akan terus terulang lagi.
Tapi lagi-lagi, suatu malam di kos cuma ada saya dan Rina. Saat itu penghuni kos sedang pada mudik semua. Tengah malam saya terbangun gara-gara suara orang nangis. Ternyata Rina sedang nangis sambil jari-jarinya sibuk SMS. Saya bertanya ada apa. Dengan sesenggukan dia menunjukkan sms-sms yang ternyata dari pacarnya. Ya Tuhan, isi SMSnya... andai saya jadi Rina pun saya juga akan nangis gak terima. Isi SMS-SMS itu sungguh menjatuhkan harga diri Rina sebagai seorang wanita. Dia dikatakan seorang pelacur oleh pacarnya sendiri. Dan dia mengakui kalau ini bukan kali pertama pacarnya menyebutnya seperti itu. hanya menurutnya, kali ini yang terparah.
Well, saya sungguh tak habis pikir entah apa yang membuat Rina tak mau meninggalkan pacarnya. Ada yang bilang itu karena Rina matre dan gak mau kehilangan fasilitas-fasilitas dan sokongan dana dari pacarnya yang katanya kaya. Tapi tanpa sepengetahuan teman-teman yang lain, Rina telah membuat suatu pengakuan pada saya tentang alasan mengapa ia sulit lepas dari pacarnya. Mungkin alasan yang ia ceritakan pada saya lebih masuk akal dari pada alasan yang mengatakan ia sekedar takut kehilangan orang yang selama ini membanjirinya dengan materi. Tapi tetap saja saya gak terlalu setuju jika ia memilih berpikiran sempit dan terus bertahan dengan pacarnya itu.
Puncaknya, saya masih ingat waktu itu adalah malam 14 Februari ketika Rina dan pacarnya sedang duduk di teras kos. Mereka berbisik-bisik tapi suara yang keluar seperti orang yang sedang bertengkar. Saya gak tau gimana awalnya, tiba-tiba Rina masuk ke kamar. Ia mengambil satu tas besar berisi pakaian pacarnya (Rina memang biasa mencucikan pakaian pacarnya) dan melemparkan pakaian-pakaian itu ke kebun depan kos. Saya dan teman-teman kos lain cuma bisa melongo menyaksikan adegan dramatis itu. Mereka berdebat sangat sengit sampai kemudian Rina berteriak pada saya: “Iiiiiiiinnnnnnnnn, tutup pintu kamar!!!!” saya spontan menutup pintu kamar. Ternyata Rina menyusul saya. Dia mengatakan kalau pacarnya ingin membalas dengan mengacak-acak isi lemari Rina dan membuangnya seperti yang dilakukan Rina tadi terhadap pakaian pacarnya.
Di luar terdengar suara gaduh.  Ternyata, setelah tak berhasil mengacak-acak isi lemari Rina, pacarnya melampiaskan kekesalannya dengan membuang seluruh sepatu dan sandal yang ada di rak, tak terkecuali sepatu saya dan sepatu teman-teman kos juga jadi korban. Pacarnya melemparkan satu persatu ke jalan dan bukit depan kos! Akhirnya sambil menangis Rina keluar menemui pacarnya. Hening sesaat. Beberapa waktu kemudian, Rina pamit keluar sama pacarnya padahal saat itu sudah jam sembilan malam. Saya dan teman-teman lain mencoba mencegahnya karena kami takut Rina diapa-apain sama pacarnya karena mereka lagi dalam keadaan emosi berat. Tapi Rina memang tak bisa lagi dicegah. Akhirnya mereka pergi. Setelah mereka pergi, saya dan teman-teman berhamburan keluar menjumputi sandal dan sepatu kami yang tadi dilempar pacarnya Rina. Sebagian terserak di jalan, sebagian masuk got, sebagian nyungsep di kebun, dan sebagian lagi belum ketemu, mungkin terlempar di atas bukit. Lucunya, saat kami sibuk mencari sandal dan sepatu kami, kami menemukan beberapa celana dalam pacarnya Rina yang tergantung di pohon kebun kos. Mungkin kelewatan belum ikut diberesin setelah tadi dilempar Rina.
Saya dan teman-teman saya masih ngrasani Rina dan pacarnya saat tiba-tiba dari arah selatan Rina berlari ketakutan sambil menangis. Dia berlari sendirian padahal tadi dia keluar bersama pacarnya. Belum sempat dia bercerita pada kami, pacarnya menyusul dari belakang dengan mengendarai motor. Tapi kemudian dia berbalik tidak jadi mengejar Rina. Mungkin dia sungkan karena melihat kami seluruh penghuni kos sedang berkumpul di tepi jalan depan kos.  Ternyata kekhawatiran kami benar. Bahkan ternyata lebih mengerikan dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Dengan masih menangis, Rina bercerita kalau dia tadi dijebak. Pacarnya pura-pura baik dan mengajaknya keluar. Ternyata di jalan ia diturunkan dan dikejar-kejar dengan motornya ke arah jurang di ujung komplek kos kami. Katanya, sepertinya dia mau dibunuh pacarnya yang sudah terlanjur gelap mata. Untung Rina berhasil melompati pagar rumah orang dan masuk ke teras rumah orang tersebut. Dia berpikir, pacarnya tak akan berani macam-macam atau dia akan teriak minta tolong pada penghuni rumah. Ternyata benar. Pacarnya memutuskan untuk pergi. Rina lalu mengambil jalan pintas dan pulang ke kos. Untung tadi tak sempat ‘ketangkap’ lagi. Huffffhhh, sungguh dramatis. Saya sampai ngeri sendiri ngebayanginnya!
Kasihan Rina, sampai pagi haripun dia masih tampak lemas dan pucat. Pasti capek! Capek melakoni adegan menegangkan semalam dan cape disiram berliter-liter nasehat dan tuntutan dari teman-teman kos. Tuntutan supaya dia segera ‘bercerai’ selamanya dari pacarnya yang mengerikan itu. Dan pagi itu juga, walau mukanya kuyu, dengan penuh tanggung jawab dia rela mendaki bukit sendirian mencari sisa sandal dan sepatu yang belum ketemu. Tapi dasar Rina. Dengan mudahnya dia bisa kembali tertawa-tawa. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak saat kami bercerita soal celana dalam pacarnya yang nyangkut di pohon.
Setelah kejadian itu, saya tak pernah melihat Rina jalan lagi sama pacarnya. Dia sempat bercerita sama saya kalau dia mendapat ancaman dari pacarnya. Tapi nampaknya dia sudah punya cara untuk mengatasinya. Beberapa kali  pula saya liat dia menggandeng pacar barunya; pacar yang kata teman-teman saya sesuai dengan kreteria idaman Rina: yang penting kaya.  Hmm, I don’t mind. Masalah itu urusan dia. Yang penting pacarnya kali ini tidak psikopat dan tidak membahayakan jiwa raga.
Well, that’s one of my friend’s true story. Mungkin kita geleng-geleng kepala ya baca cerita di atas. Kok ada orang yang masih mau bertahan sama pacar yang sadis seperti itu? seharusnya pacar itu melindungi bukan malah menyakiti. Kalau toh memang dari pihak Rina yang salah, kan bisa diselesaikan baik-baik, gak perlu pakai main tangan kayak gitu. Yeah, buat pelajaran aja ya, jangan sampai emosi yang berlebihan membuat kita gelap mata, apalagi sampai menyakiti orang yang kita sayangi. Dan buat yang punya pengalaman punya pacar yang dikit-dikit main tangan, mending dievaluasi lagi deh hubungannya. Apa iya dia bener-bener sayang sama kita? Baru pacaran aja udah kayak gitu, bagaimana kalau nikah nanti? Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut, yang ada malah menimbulkan tekanan dan jadi teror psikis yang maha berat. Akhirnya pacaran jadi tidak sehat lagi deh. Cobalah berkomunikasi yang baik dan take a chill phill guys!


1 komentar:

futri fauziah mengatakan...

Iyaa yaa kok ada. Hm bagus tulisannya

Poskan Komentar