Fenomena Korupsi, Dari Bawah Sudah Nyampahi

“Andai aku Gayus Tambunan, yang bisa pergi ke Bali, semua keinginannya pasti bisa terpenuhi...”

Itulah seklumit lirik lagu andai aku jadi gayus yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Bona Paputungan yang akhir-akhir ini lagi booming seiring dengan boomingnya kasus terdakwa korupsi pajak, Gayus Tambunan.

Ckkkckkk, Fenomena korupsi dan main suap di Indonesia udah bener-bener kelewat batas. Tiap hari berita di TV disesaki oleh topik berita korupsi.. lagi lagi korupsi.. korupsi lagi.. Uang negara yang jumlahnya gak sedikit itu dengan seenaknya untuk kepentingan diri sendiri. Bayangkan jika uang itu dipakai untuk membantu korban bencana, memperbaiki taraf hidup masyarakat kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan, atau untuk memperbaiki sarana dan prasarana umum terutama di daerah yang masih tertinggal... bayangkan betapa sangat bergunanya...

Tapi yaaa....namanya koruptor... mana mungkin otaknya sampe di sana??? Walau di negara kita ada peraturan untuk menindak tegas para koruptor, tapi nyatanya banyak dari mereka yang dengan mudah bisa lolos dari jerat hukuman, atau dapat hukuman tapi sangat jauh di bawah tuntutan yang harusnya dijatuhkan. Ya pantas aja para koruptor semakin asyik menghisap uang rakyat. Mungkin yang ada di otak mereka, “kalo lagi apes ketangkep, ya tinggal main sogok ma oknum-oknumnya aja.. oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim. Pokoknya semua oknum penegak hukum yang juga punya bakat korupsi. Beres deh!” Hmmmm....andai negara kita menerapkan aturan seperti Cina; hukuman mati untuk para koruptor...

Lagi-lagi memang dibutuhkan ketegasan hukum dan aparat penegak hukum yang bersih (dan juga ketebalan iman para calon koruptor dan para aparat kali yaaa....) untuk memberantas korupsi hingga seakar-akarnya. Tapi lagi-lagi saya pesimis melihat sudah begitu merajalelanya praktek korupsi di negara kita. Gak hanya mereka yang punya jabatan tinggi, tapi ternyata ditingkat yang paling bawah pun fenomena korupsi sudah bukan hal asing lagi, bahkan dianggap sebagai kebiasaan yang sudah wajar dilakukan. Bahkan yang lebih ironis, masyarakatpun seperti permisif dengan hal ini..


Dulu saya merasa fenomena korupsi belum separah itu, hingga saya menyaksikan sendiri dengan mata kepala, betapa enjoy mereka melakukannya...

Beberapa waktu yang lalu, saya diajak oleh salah satu teman saya untuk mengurus laporan pertanggung jawaban atas kucuran dana yang telah diberikan pemerintah untuk pembangunan di lembaganya. Sebut saja jumlah dana kurang lebih 30 juta. Tapi dari total jumlah tersebut, harus dipotong ini dan itu alias ngamplopin para oknum yang merasa berjasa. Ditingkat kecamatan sendiri ada pak X dan Z yang minta jatah 500 ribu. Ditingkat kabupaten oknumnya minta 1,5 juta. Adalagi organisasi tingkat wilayah tempat bernaungnya yayasan tersebut minta jatah 10% dari total dana yang turun (berarti 3 juta donk!). trus yang tingkat cabang gak mau kalah minta diamplopin juga. Dan asyiknya, mereka mengutarakan itu dengan gamblang gak pake acara bisik-bisik tetangga. Seakan hal seperti itu memang sudah wajar dilakukan. Kalo gak ngasiiiihhh???? Wah, bisa-bisa langsung akan masuk daftar blacklist!

Hmmm, saya jadi mikir, kalo dari tingkat bawah aja udah pinter nyampahin kayak gitu, bagaimana yang tingkat atas ya? Mungkin pembelaan Gayus kemarin ada benarnya juga, kalo masih banyak ikan-ikan kakap yang lebih kakap dari dirinya yang masih bebas berkeliaran...haha, lha Gayus yang korupsi segede itu aja menganggap dirinya ikan Teri, trus ikan kakapnya segede apa donk???

Kalo hal itu terus-terusan dibiarin menjadi budaya masyarakat tanpa ada kesadaran diri dan tindakan yang tegas dari pemerintah, rasanya cita-cita “Indonesia Bersih” hanya akan berakhir mimpi belaka...


2 komentar:

Musyafak Timur Banua mengatakan...

cuih! sudah kubilang, pejabat banyak yang korup karena ia dididik oleh sistem2 masyarakat yang korup. jangan terlalu menyalahkan jika pejabat negara korup, lha wong dari rakyat kecil sampe besar sudah biasa korup. merampas hak orang lain, ghasab...

Aina mengatakan...

ckck...haruskah begini dan selamanya menjadi-jadi???

Poskan Komentar