surat untuk Dinda

Dinda,
Rumahku tak lagi menjadi surga
Makanan-makanan hangat yg tersaji mendadak dingin
Pun air keran tak mampu luruhkan dahaga
Kasurku panas,
(ah,mungkin juga karena sudah tipis tergerogot waktu)
Aku tercibirkan sekeliling
Aku ingin pergi saja, Dinda
Sebentar saja
Maukah kau menemaniku?
Jika kau tak mau, antarkan aku saja
Dekat stasiun itu, tak usah sampai pintunya
Semoga diam-diam aku terbawa arus ke sana, ke ujung sana
Yang katanya gampang membuat orang jadi kaya
Meraup pundi-pundi kemakmuran
Kita bisa beli apa saja, bahkan harga diri manusia
Biar kediamanku tak lagi mencemooh
Atau sekalian saja kurobohkan rumah neraka itu nanti
Kita bangun surga yang baru
Ah,ah,tak usah mikir pakai uang siapa
Toh uang tetap uang, siapapun berebutan
Apalagi orang-orang yang di sana, yang katanya mengayomi kita,
Yang dengar-dengar mereka itu wakil kita (dan sejak kapan aku menyuruh mereka mewakiliku, ya?)
Pintar sulap mereka, Dinda
Bisa menggandakan gaji gajahnya menjadi gunung
Iya kan, Dinda?
Aku akan merampok mereka
Doakan aku tak tertangkap polisi,ya
Eh, tenang saja..
Mungkin aku bisa sedikit membungkam mereka
Betul kan, Dinda?
Jaga rumahku ya, Dinda!
Jangan sampai dia ikut-ikutan meledekmu

0 komentar:

Poskan Komentar