Catatan Kecil Euforia Final Piala AFF dari Dunia Maya

Euforia piala AFF sudah berakhir. Dan indonesia benar-benar mengukuhkan ‘qolabnya’ sebagai spesialis finalis (yeah, kalo tidak salah ini sudah keempat kalinya) tanpa pernah mengecap manisnya menjadi juara. Yang bikin tambah gak asik, kalahnya sama Malaysia, yang notabene akhir-akhir ini lagi kisruh multidimensi sama negara kita tercinta ini.
Yach, kalau dipikir-pikir sayang banget sih, padahal ini kesempatan bagus buat Indonesia untuk membuktikan kalau sepak bola Indonesia sudah bangkit. atau mungkin Timnas terlalu larut dalam hujan pujian atas kemenangan gemilang pada babak penyisihan dan semifinal? Entahlah.. tapi memang tak bisa ditutup-tutupi kalau permainan Timnas indonesia pada leg 1 di Stadion Bukit Djalil Malaysia memang tak seindah di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Apalagi ditambah pecahnya konsentrasi para pemain Indonesia pada babak ke 2 akibat adanya petasan dan sinar laser dari supporter Malaysia.
Saya yakin, penduduk Indonesia yang pada nonton pertandingan final kemarin memang kecewa dan mungkin banyak juga yang marah. Saya juga kecewa, tapi tak sampai marah-marah. Di saat gawang Indonesia sudah kebobolan, akhirnya saya agak malas menghadap layar televisi. Saya memilih berpaling ke layar handphone, membuka Facebook. Dan Ya ampyuuuuuunnnnn, status di Facebook 100% soal bola! Ungkapan kekecewaan, kemarahan bahkan hujatan untuk Malaysia memenuhi beranda Facebook saya. Saya jadi senyum-senyum sendiri, isi statusnya lucu-lucu dan lebay... mayoritas mengkritik pedas soal laser supporter Malaysia yang mengganggu Bang Markus. Tapi ada juga yang mengkambinghitamkan kostum hijau putih yang dipakai Timnas. Coba kalo pake merah putih ya, mungkin hasilnya akan beda. Hehehe,,,,
Pertandingan leg 1 usai ternyata belum membuat ‘pertandingan yang lain’ ikut usai. Dua puluh empat jam setelahnya di Twitter masih ramai ngomongin bola. Bahkan kata ‘Indonesians’, ‘Malaysians’ dan ‘HATE MALAYSIA’ cukup lama nongkrong di Trending Topic.
Nach, saat pertandingan leg 2 di SUGBK 29 Desember malah lebih ramai lagi. Saya lihat penampilan Timnas kali ini lebih baik daripada di leg 1 kemaren. Banyak tembakan-tembakan berbahaya yang diarahkan ke gawang Malaysia. Beberapa meleset, tapi tak sedikit yang berhasil dimentahkan oleh kiper Malaysia, Khoirul Fahmi. Yeah,harus diakui kalo kiper yang satu ini pada pertandingan leg 2 tampil sangat memukau. Kalo boleh saya bilang permainan Malaysia tak seindah pada leg 1. Tapi mereka diuntungkan dengan adanya si Fahmi ini. wuah, dan memang popularitas Fahmi mendadak meroket masuk dalam jajaran TT di Twitter, persis kayak pas Irfan Bachdim berhasil ngegolin gawang Malaysia pada babak penyisihan dulu. Pas saya buka timeline-nya, kebanyakan dari publik Malaysia yang menghujani pujian terhadap sang kiper kebanggaan mereka. Publik Indonesia juga gak kalah geregetan sama si Fahmi ini. malah ada yang mengharuskan si Fahmi untuk segera dinaturalisasi oleh Indonesia. Wuahahaha....
Indonesia krisis gol, memang. Semua deg-degan. Beban berat harus ditanggung Timnas untuk memperoleh poin penuh supaya dapat keluar jadi juara. Dan terasa semakin berat saat Malaysia berhasil membobol gawang Indonesia untuk pertama kalinya pada leg 2 ini. yeah, 1-0 untuk Malaysia. Tambah geregetan...sampai-sampai di Twitter ada yang ngomong siapapun yang berhasil njebol gawang Malaysia boleh jadi presiden 2014. Haha... Dan tampaknya omongan orang tersebut dikabulkan. Beberapa waktu kemudian, Indonesia bisa njebol gawang Malaysia juga lewat tendangan Nasuha... horeeeee, lumayaaaannnn!!!! Penonton di SUGBK langsung riuh. Kamera langsung ngeshoot pak presiden SBY yang  juga ikut nonton. Woo, ternyata pak presiden gak mau senyum. Beliau Cuma tepuk-tepuk tangan dengan gaya lemas. Nampak banget kalo tepuk tangannya setengah hati. Beda sama Ibu presiden yang tetep menampilkan raut optimis. Sampai di sini twitter dan Facebook mulai ngoceh lagi, ketambahan topik baru lagi: about pak SBY. Mereka pada sibuk komentar soal wajah SBY yang masam dan tanpa ekspresi saat Timnas berhasil membobol gawang lawan. Hal ini berlanjut sampai ketika untuk kedua kalinya ketika gawang Fahmi dibobol Timnas. Ekspresi tepuk tangan SBY tetap tak berubah. Paling tingkat kenaikan rasa optimisnya Cuma 1% aja, masih banyak pesimisnya. Wah,jejaring sosial heboh lagi. Ada yang ngetweet ‘abis pertandingan pak SBY mau curhat’. Ahahaha...   Mungkin kepesimisan Pak SBY dikarenakan waktu pertandingan sudah hampir habis dan kewajiban jumlah gol yang harus diraih timnas masih cukup banyak. Yeah pak SBY, ga pa-pa kali pak, yang penting Timnas kita udah berusaha.
Waktu pertandingan udah kian mepet menuju menit ke 90. Duh, rasanya pengen bikin waktu berhenti. Dan twitter pun berkicau lagi,“Saya doain peluitnya wasit ilang”, pastinya tweet tersebut dari pendukung Indonesia yang tak ingin pertandingan segera berakhir, berharap Timnas masih punya banyak waktu untuk kembali mencetak gol, walau akhirnya timnas harus menyerah 2-1. (Hoho, ngeliat skornya sih menang. Tapi saya baru ingat kemaren kalah 3-0.hahahaha)
Yeah, semua rakyat Indonesia mendukung timanas kita bermain bagus dan menang dalam piala AFF ini. dukungan mengalir deras lewat jejaring sosial FB dan Twitter. Saya hampir meyakini itu kalau saja saya tak membaca status dari salah satu teman saya di FB, “salut sama Fahmi. Ayo tahan teruuusss!!!!”. Dan saat Malaysia dinyatakan keluar sebagai pemenang,dia update status lagi “Good Job, Malaysia”. Hmm, ni orang beneran sinting apa cuma mau cari sensasi ya....????
Walau akhirnya Indonesia kalah (apalagi yang bikin tambah sebel adalah kalah dari Malaysia), setidaknya kita sudah menang di kandang sendiri, jadi gak malu-maluin banget.  Bagaimanapun kita tetep harus ngasih apresiasi ke Timnas kita. Buat saya, mereka sudah sangat bagus dan saat ini berada pada mental terbaik dalam kurun waktu satu dekade ini. Kalau memang belum menang, mungkin memang belum waktunya. Semoga kekalahan kali ini bisa ditebus pada Sea Games 2011, dan pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Okeeeeyyyy!!!!

1 komentar:

Musyafak Timur Banua mengatakan...

persoalan kalah di final itu sebenere sistemik. persepakbolaan timnas maupun diindonesia kudu diapiki meneh tho ya, lah ketua PSSIne masih tertjerat syndrome power, tak punya malu mempertahankan jabatan meski ia berkali-kali cacat hukum...

Poskan Komentar