Antara Saya, Jerawat, dan Ayam

Jerawat, mungkin cuma seonggok benjolan kecil di muka yang tidak terlalu berbahaya. Tapi seringkali si jerawat ini bikin keki si empunya karena dianggap mengurangi indahnya penampilan saja. Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang hampir tidak pernah absen dikunjungi si makhluk pink nan mungil  yang cukup menyebalkan itu. Tumbuh satu, hilang satu, tumbuh lagi satu, dan seterusnya. Untunglah jarang sekali si jerawat menyerbu merata di seluruh muka. Kalau sampai itu terjadi, oh my God,,, gak bisa bayangin deh!
Seingat saya, jerawat mulai menyerang muka saya ( yang dulu mulus) semenjak akhir SMP. Waktu itu kalau tidak salah saya mulai coba-coba memakai pelembab; hasil dari ikut-ikutan teman yang sukses memakainya. Tapi apa yang terjadi??? Muka saya jadi sangat berminyak dan gampang kusam. Saya mulai menyadari saya telah memasuki masa remaja di mana hal tersebut sangat wajar terjadi. Tapi setelah panen minyak, muka saya mulai diserbu jerawat. Tidak parah tapi cukup membuat saya kalang kabut sampai-sampai memutuskan untuk membasminya dengan cuci muka di salon. Orang-orang mulai berceloteh kalau saya lagi jatuh cinta, makanya tumbuh jerawat. Grrrr!!!! Saya ingat waktu itu bahkan saya tak punya teman laki-laki sama sekali. Ada lagi yang bilang jerawat tumbuh gara-gara saya suka makan kacang, sampai-sampai saya menjauh dari si kacang. Tapi tetep aja jerawat masih setia nangkring. Saya stress, apa yang terjadi dengan muka saya? Padahal seluruh garis keturunan saya; orang tua, saudara, sepupu, bulek, paklik, tak ada yang punya riwayat jerawat. Akal saya jadi pendek. Setiap ada produk cuci muka atau pelembab muka yang baru, langsung saya beli. Tapi satupun tak ada yang manjur. Saya ingat, saya bahkan sempat mengikuti anjuran sepupu saya yang sangat aneh, agak gila dan tak masuk akal. Bayangkan, saya disuruh mengelap muka saya yang berjerawat pakai celana dalam paklik saya yang belum menikah, ya syaratnya memang celana pria yang belum menikah, dan celananya harus yang belum dicuci. Bayangkan!!!!!
Akhirnya saya tak peduli. Saya biarkan saja jerawat datang dan pergi sesuka hati. Saya tak lagi mencoba menghindari makanan ini itu. Pokoknya saya tak tahu apa yang membuat muka saya rombeng-rombeng. Saya anggap jenis muka saya memang sensitif sehingga gampang diserbu jerawat. Apalagi  waktu saya sekolah jarang ada akses untuk mencari tahu penyebab jerawat yang sebenarnya. Cukuplah saya rajin cuci muka 3x sehari dengan sabun cuci muka yang saya anggap cocok dengan jenis kulit muka saya (walau sebenarnya saat itu saya tak terlalu yakin dengan pilihan sabun cuci muka saya).
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya baru mendapatkan petunjuk bahwa muka saya memang rentan terhadap sembarang sabun cuci muka dan ayam!!!! Woy, bagaimana saya bisa terlambat menyadari bahwa si biang kerok itu ternyata adalah ayam? Bukan sekalian telornya ato kacang yang sering digembar-gemborkan dunia sebagai penyebab jerawat?
Saya baru menyadari sekitar bulan puasa agustus-september lalu. Saat itu di samping ruko tempat saya bekerja ada grand opening fried chicken baru “SUGA”. Yach, namanya juga baru buka, otomatis si Suga promosi harga besar-besaran. Waktu itu cukup dengan uang lima ribu rupiah (dapat kembalian lima dua ratus) udah dapet nasi, ayam dan air mineral. Lumayan kan? Nach, karena kemurahan harganya itu, saya jadi jor-joran mengkonsumsi ayam. Kadang sahur pake ayam, berbuka juga pake ayam. Apalagi kalo lagi siklus bulanan, tambah rajin makan ayamnya. Dan efeknya??? Muka saya jadi meradang disko. Benjolan merah gede-gede rata di muka. Pokoknya saya sampe jijay banget liat muka saya sendiri. Waktu itu, saya belum sepenuhnya menyadari kalau si ayamlah penyebabnya. Tapi setelah saya menetap di rumah dan sudah menjauh dari ayam, perlahan muka saya membaik. Barulah saya sepenuhnya sadar.... tambah sadar lagi saat sebulan udah berlalu, saya nyoba-nyoba makan sate ayam. Porsinya kecil banget, porsi anak TK. Tapi apa yang terjadi?? Sejam kemudian muka saya bereaksi, merah merona, benjolanpun tampak timbul tenggelam...hehe
Yach, saya terima sajalah ke-alergi-an saya terhadap ayam. Saya masih betah kalau disuruh menjauh dari ayam. Asal jangan disuruh menjauh dari tempe, saya benar-benar gak bisa......
Namun yang perlu digarisbawahi, bukan berarti setiap orang memiliki kasus yang sama seperti saya. Gak semua orang berjerawat karena ayam, tergantung jenis kulitnya. Seperti teman saya yang mukanya langsung brontok gara-gara makan kacang dan telor, tapi saya tidak. Selain itu, kebersihan muka memang harus diperhatikan karena kotoran yang tidak terangkat bisa menyumbat pori-pori dan terjadilah jerawat. Cuci muka pun sebaiknya memilih sabun yang cocok dengn jenis kulit muka kita. Sekedar saran, Kulit yang berjerawat sebaiknya tidak dicuci menggunakan sabun yang mengandung scrub karena justru akan mengakibatkan iritasi pada kulit yang akhirnya akan memperparah jerawat.



1 komentar:

Musyafak Timur Banua mengatakan...

pancen riwayatmu tak booleh makan ayam dan sejenisnya: cukup tempe tahu dan telor. Hahahaha dasar gadis tempe!

Poskan Komentar