Halaman

10 Aina Undercover


Oke, saya cerita aja ya… kemaren waktu posting-posting soal bingung thu sebenernya saya emang beneran lagi bingung! Bukan bingung milih pendamping hidup, juga bukan bingung antara mo nikah sekarang ato lusa, tapi…. saya lagi bingung milih di antara dua kerjaan.
Nampaknya emang sederhana sih…wong tinggal milih aja kok repot! Tapi ya gitu deh… Dan apapun pilihan saya nanti, moga aja saya gak nyesel…
Beberapa hari gak buka blog, tau-tau udah ada PR tag-tagan. Gak tanggung-tanggung, ada 4 blogger yang masing-masing punya nama Eks, Huda Tula, Adryan Nurdien, dan Rabest yang nge-tag saya dengan satu tema yang sama, yaitu di suruh mendeskripsikan sepuluh hal tentang saya.
Hmmm, kok cuma sepuluh sih??? Padahal keunikan saya banyak lho yang belom ter-ekspose... Gak keitung malah! Tapi karena perintahnya sepuluh ya saya kasih sepuluh aja deh...

Confused Mode On


Sering banget dihadapkan pada dua pilihan yang sulit
Sulit menurut saya sendiri maupun yang sulit menurut orang lain
Anehnya... Kata orang, pada akhirnya saya selalu memilih pilihan yang tidak direkomendasikan
Tapi anehnya juga saya gak pernah menyesali apapun yang telah saya pilih
Sekalipun di luar sana banyak yang mencibir dan mengatakan saya ‘BODOH’
Saya hanya berlalu saja...
Yang penting saya ‘Nyaman’ dengan pilihan saya,
Menjalani apa yang hati kecil saya bilang...
Kini pun lagi-lagi saya sedang bingung memilih di antara dua hal
Lebih bingung ketimbang harus memilih di antara dua pacar *byuh*
Ketika hati sudah mantap ke satu pilihan
Eeeh, malah ada opini-opini yang menggamangkan...
Padahal saya udah terlanjur cinta ama sesuatu itu
Sulit rasanya untuk pindah ke lain hati
Toh hati yang baru itu belum tentu mampu ‘melumpuhkan’
Ah, kenapa harus ada kata ‘memilih’?
Kenapa gak dua-duanya aja? *serakah*
Tapi ternyata saat saya melek dan sadar
Hidup ternyata memang harus milih!
(Hmmmm, baru dua pilihan aja susah banget... apalagi kalo tiga, empat, lima?????)

Hitam Putih Perjalanan Pulang Pergi


Mungkin perjalanan pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja, lalu balik lagi dari tempat kerja ke rumah hanyalah suatu perjalanan yang gak ada istimewanya, beda banget kalo kita lagi perjalanan travelling ke suatu daerah wisata yang pastinya banyak banget yang bisa diceritain.
Yeaw, apa sih uniknya perjalanan dari rumah ke tempat kerja? Kalo saya sih palingan ketemu kuburan, kadang ketemu orang gila yang konon suka spontan gebukin orang lewat (untung saya belom pernah kena gebuk), ngeliat orang yang rutin nyiram bunga, ketemu orang yang satu misi dengan saya alias sama-sama perjalanan ke tempat kerja, dan sebagainya. Ya, itu-itu aja menunya.
Biasa? Bagi saya ya amat sangat biasa aja...
Tapi beda ama Mbak Rifka Nida Novalia. Perjalanan pulang perginya dari rumah ke kantor justru bisa ia cipta menjadi bahan tulisan apik yang akhirnya terangkum dalam sebuah buku. Weeiiits keren amirrrrr...
Judul bukunya Hitam Putih, sama kayak nama blog Mbak Rifka. Dengan sudut pandang yang berbeda, Mbak Rifka berhasil menceritakan hal-hal yang mungkin sering dianggap sepele yang ditemuinya sepanjang perjalanan pulang pergi rumah-kantor, yang bahkan mungkin gak kepikiran buat ditulis orang, dengan gaya yang khas tapi tetep easy reading.
Gimana ya Mbak Rifka menceritakan saat ia ketemu pengemis dan pemulung? Ada cerita apa ya tentang pengemis dan pemulung itu? Hmmm, jadi penasaran deh! Apalagi ditambah dengan gambar cover bukunya yang didesain khusus oleh Si Huda Tula, gambarnya menantang banget, keliatan sisi misteriusnya *misteriusKayakSiHuda*. Wuuu, makin penasaran aja nih saya...
Makanya demi bisa baca cerita komplitnya, saya ikutan Giveawaynya Gaphe yang salah satu pemenangnya bakalan dapet bukunya Mbak Rifka ini. Siapa tau aja menang. Hehehe. Tapi buat kalian yang udah gak sabar pengen baca ni buku, bisa...bisa...bisa langsung pesen aja sama Mbak Rifka lewat alamat emailnya rifka.nida@gmail.com ato ke alamat di link ini.
Wismilak, ya!!!!

Reuni

Cerpen Iin Aina (Tabloid Cempaka 21-27 Mei 2011)

Martha memandang undangan mungil berwarna biru muda di tangannya. Undangan reuni SMA Persada, almamaternya. Ia mengingat-ingat, kalau tidak salah ini sudah kali ketiga ia menerima undangan reuni. SMA Persada memang selalu mengadakan reuni setiap empat tahun sekali. Artinya ini sudah 12 tahun sejak ia lulus SMA itu. Tapi dari 3 kali undangan reuni yang didapatnya, tak satupun Martha menghadirinya.

“Kelihatannya undangan reuni ya, Tha?” tiba-tiba ibunya sudah berdiri di belakangnya, membawakan secangkir teh.

“Iya, Bu.” Jawab Martha pelan. Perlahan ia menyeruput teh hangat yang dibuatkan ibunya. “Tapi kelihatannya aku tidak akan datang.”

“Tidak datang lagi?”

Martha mengangguk kecil, lesu.