Halaman

Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan

Pohon Pisang di Belakang Rumah


“Eh, kamu udah tau belom perkembangan terbaru soal si Fredy yang seminggu ini ngilang?”

Aku menggeleng.

“Mayatnya udah ditemuin membusuk di sungai. Wajahnya gak bisa dikenali lagi. Ngeri!!! Makanya aku ke sini mo ngajakin kamu ngelayat...” 

Berita bagus, dong!!! Itu artinya aku gak perlu was-was lagi. 

“Oh ya, sejak kapan kamu suka ama pohon pisang?”

Sh*t! Sempet-sempetnya juga dia jelalatan ngelirik kebon belakang rumahku!

“Emmm....sejak aku ngerasa kalo pohon pisang itu ternyata eksotik...”

Hyaik, itu adalah jawaban terbodoh yang pernah aku lontarkan...

“Oooo....”

Tapi semoga aja dia percaya! Dan semoga aja mereka juga percaya kalo si mayat busuk dari sungai itu adalah Fredy. Semoga aja gak ada yang pernah kepikiran kalo Fredy sekarang udah bobok tenang di bawah pohon pisang itu.

Kamuflase


Sambil melotot, bisik-bisik, dan nyikut-nyikut Dinda yang lagi maenin hapenya Asri, “Buruan transfer fotonya, gue uda aktifin bluetooth, nie...”

“Gak berani...”

“Cemen loe! Bawa sini hapenya!”

Hape Si Asri udah pindah ke tangan gue. Tapi mata Si Asri awas bener ya merhatiin gue yang lagi pegang hapenya... kayae curiga ama niat busuk gue...

“Met, dari mana sih loe dapet aplikasi biru-biru ini? Keren sumpah! Gue mau dong... Bagian yang ada adegan loncat-loncat gue suka banget, efeknya dramatis...”

Bla bla bla... 

Dengar, dengar!! Dengan penuh semangat, Asri langsung menjelaskan soal aplikasi yang barusan gue tanya.

Yess, Asri percaya aja kalo gue lagi buka-buka kotak aplikasi super gak penting itu. Asri yang dodol odol-odol gak mudeng kalo sebenernya gue lagi sibuk mentransfer foto syur koleksi pribadinya dari hapenya ke hape gue...

Sekarang tinggal nyebarin ke seluruh dunia deh....

****

Sekali lagi, ini hanya FIKSI MINI

He is Mine


Kasihan, setelah ditinggal mati suaminya, ia jadi stress.
Kemarin, ia berebut sepeda motor dengan tetangga. Ia merasa sepeda motor itu miliknya...
Kemarin lagi, ia masuk ke rumah orang, mengacak-acak isi kulkas. Ia pikir kulkas itu miliknya...
Kemarin lagi, ia menangis meraung-raung di depan sebuah toko buah, memaksa membawa buah jeruk yang dianggap miliknya...
Kemarin lagi, dengan genitnya ia menari di jalanan dengan memakai baju pramuka, entah baju milik siapa...
Sekarang, dengan dandanan menor ala pelacur murahan, ia berteriak-teriak di depan rumahku, memanggil-manggil nama suamiku...
Jangan sampai!

Sudah Cukup


Kalo cuma mau bilang putus kenapa susah amat sih? Apa untungnya pake nyakitin hati gue dulu?
Pake bilang cinta setengah hati lah, ingat mantan lah, abis kopdaran ama cewek cantik lah, gak mau nikah sampe umur 30 tahun lah... (Awas loe, jadi bujang lapuk beneran tau rasa loe!)
Nunggu gue yang mutusin elo duluan?
“Tau gak, sebenernya aku mau jujur kalo foto-fotoku ama dia masih aku simpen...”
Tuh, kan...? Mulai lagi deh...
“.... tapi kamu pernah bilang kalo foto-foto itu udah dibakar...?!”
“Yang dibakar kan suratnya doang...”
Diem.
Ok, kali ini gue gak mau marah-marah lagi. Gue rasa udah cukup. Toh ini terakhir kalinya loe bisa nyakitin hati gue. Sekarang tinggal mikirin bagaimana nanti ngebuang mayat loe setelah racun yang gue masukin ke mie goreng loe bereaksi...
Tuh kan, tubuh loe udah mulai kejang-kejang...

SMS (Pacar Palsu)


Kata teman-teman kosku, aku sangat beruntung punya pacar super romantis yang selalu mengirimiku SMS mesra dan berlusin puisi cinta.
Aku dan pacarku menjalin Long Distance Relationship alias pacaran jarak jauh. Tapi kata mereka, itu tak apa. Yang penting pacarku perhatian. Gak seperti pacar-pacar mereka yang katanya cuek bebek.
Mereka bilang sangat iri padaku...
Mereka juga ingin diperhatikan siang malam seperti apa yang dilakukan pacarku padaku...
Dan seperti biasanya, saat malam merambat pelan, jemariku mulai asyik menjamah keypad HP, “Selamat tidur Honey... Temui aku di mimpi yach... Emmmuah”
‘Pesan terkirim’
Sedetik kemudian, Hpku yang satunya berbunyi. Sebuah SMS.
Pengirim  : Andri
Nomor      : Nomor Hpku sendiri.
Ya, SMS rutin dari pacarku; pacar palsu. SMS yang kutulis dan kukirim untuk diriku sendiri... SMS yang membuat mereka sangat iri padaku.

Sepeda Baru


“Bu, hari ini kita jadi ya beli sepeda baru?”
“Iya Nak.”
“Asiiikkkk. Radit boleh milih yang Radit suka, kan?”
“Tentu saja!”
“Radit mau yang kayak punya Andre. Bagus deh sepedanya. Pokoknya teman-teman nggak akan menghina Radit lagi. Nggak akan ngatain Radit si sepeda butut lagi!”
......
“Dia itu kualat!”
“Kualat bagaimana maksudmu?”
“Punya duit bukannya buat bayar utang, malah buat beliin sepeda anaknya. Akhirnya anaknya kan yang jadi korban. Baru dua hari punya sepeda langsung ditabrak truk!”
“Oh....”
......
Aku masih menangis, menyandarkan kepalaku di atas pusara anak semata wayangku.
“Radit, maafkan ibu...”

Kakak


Mematikan handphone, mendekat, “Aku harus pulang sekarang...”
“Kenapa? Kumat lagi penyakitnya?”
Mengangguk, “Dia pingsan lagi.”
“Tapi kita kan baru sejam ketemu, trus  katanya besok kita mau ke Puncak.. Aku masih kangen, Beib..”
“Lusa kita kan bisa ketemu lagi, Honey...”
Cemberut, “Sampai kapan kita akan terus sembunyi-sembunyi seperti ini?”
“Kata dokter, dia tinggal enam bulan lagi.”
“Aku pengen dia mati sekarang biar kita bisa bebas.”
“Jangan begitu sama kakakmu sendiri....”


Kopi Darat


Safir_42 : Dress ungu dengan syal senada.
JohanZv
: Kaos merah marun kombinasi hitam, celana hitam.
Safir_42
: Ok.
JohanZv
: See ya!
Klik!
*****
“Ingat, Dik. Namamu adalah Safira, bukan Bening. Jangan salah lagi seperti kemarin, ya!”
Dia mengangguk. Aku merapikan  syal ungu muda yang melilit di leher jenjangnya.
Aku tersenyum, mataku menurutkan langkahnya keluar rumah.
Namanya Bening, adikku. Sebening hatinya yang selalu setia ingin membahagiakanku. Dia yang selalu bersedia menggantikanku kopi darat dengan teman-teman dunia mayaku. Ya, dia yang menjadi Safira, bukan aku yang duduk lumpuh di kursi roda ini.

Lebih Awal


“Papi pasti bakalan kangen banget sama Mami...”
“Mami  juga Pi..., Ya udah Mami pergi dulu ya...”
“Dah Mami.. hati-hati di jalan. I love you, Mam!”
“Dah.. Jangan lupa kasih makan Si Manis. Jagain tuh anak-anak kos, jangan sampai pada pulang larut malam...”
Mobil istriku melaju perlahan.
Aku tersenyum, melirik ke arah Nila, anak kosku yang sedari tadi ngintip di pintu samping. Nila menghampiriku, memelukku dari belakang, “Kita bebas, Sayang...”
“Yach, lumayan untuk tiga hari ini.”
“Bukan cuma tiga hari, tapi selamanya...”
“.....”
“Maaf, aku melakukannya lebih awal dari rencana kita. Remnya blong...!”

Sepiring Nasi

Ibuku fanatik sekali sama nasi. Kemana-mana harus ada nasi, harus makan nasi. Ya sarapan, ya makan siang, ya makan malam. Katanya tak ada makanan lain sebaik nasi, yang mengandung karbohidrat tinggi untuk memberi energi pada tubuh.

Ibu terlalu percaya sama nasi, sampai-sampai aku tak diijinkan makan mie instant sebagaimana teman-temanku sering melakukannya di rumah mereka.

“Boleh makan mie instant, tapi harus pakai nasi!”

Lagi-lagi nasi.

Aku hanya bisa menuruti kata-kata ibu tanpa banyak membantah. Kubawa semangkuk mie kuah dengan sepiring nasi. Seperti kebiasaanku yang sudah-sudah, aku selalu lebih menyukai makan di kamarku sendiri. Ibuku tahu itu.

Tapi tak ada yang tahu saat sepiring nasi itu kupindahkan ke kantong kresek hitam yang telah kusiapkan. Sekarang tinggal melemparkannya ke ayam tetangga.

Surprise

“Kenapa semalam aku memimpikannya? Biasanya aku memang memimpikannya, tapi tak pernah sepanjang dan sekomplit mimpiku tadi malam. Bahkan biasanya aku sudah lupa saat aku bangun. Tapi kali ini aku benar-benar ingat urut-urutan kejadian mimpiku....aku sama dia...”

“Kamu lagi kangen dia, ya???”

“Bukan aku. Tapi dia yang kangen aku. Aku sedang tidak memikirkannya!”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Barusan dia telepon ngabarin batal nikah sama tunangannya. Dia bilang ingin kembali padaku.”

“Oh ya? Dan kamu mau?”

“Aku bilang mau ketemu sama dia. Tapi psssssstttttt.... aku akan memberinya surprise, undangan pernikahanku minggu depan!”

Seadanya

Suatu sore yang sudah terjadwal,

Di depan mejaku sudah tersedia sebakul penuh nasi putih, semangkuk sayur asam, ikan bandeng dan tempe goreng, secobek sambal terasi, setoples krupuk dan segelas teh hangat.

Dan seperti biasa, aku selalu tak kuasa untuk menolak. Pak Badrin akan segera menampakkan raut muka kecewa seperti saat pertama kali aku menolak sajian makanan yang sudah disiapkannya.

Ya, seharusnya beliau tak perlu repot-repot menyiapkan makanan untukku, toh sebagai mahasiswa KKN yang rutin bertugas di Dukuh Pak Badrin seminggu dua kali, sebelum berangkat aku sudah mengisi perutku dengan aneka menu masakan Bu Lurah.

Tapi itulah Pak Badrin. Ia tetap memaksa.

“Seadanya kok, Mas...”
_________________________

Suatu sore yang tidak terjadwal,

Pak Badrin tergopoh-gopoh menghampiriku, tak menyangka aku datang mendadak.

Kuintip dari balik korden yang sedikit terbuka; Sebakul nasi jagung dan setoples krupuk....


Ibu Guru Naksir Kamu

“Bu, saya semalam baru putus dari Dian!”

(Yes! Memang itulah yang harus kamu lakukan)

“Lho, kok bisa?”
“Saya rasa Dian sudah terlalu banyak ngatur hidup saya..”
“Ya baguslah, pacar seperti itu memang bisa menghambat langkahmu..”
“Kalo si Ira anak kelas XC cocok nggak bu sama saya?”

(Shit!)

“Kelihatannya dia agak matre..”
“Si Vina???”
“Anaknya agak sombong..”
“Lha, trus?”
“Nanti ibu pilihkan yang baik, mau?”
“Ibu kok perhatian banget sama saya?”
“Emm, karena kamu mirip banget sama anak ibu, yang meninggal di usia yang sama denganmu.”

(Bukan! Ibu sudah lama naksir kamu, tau!)

Aku Cinta Kamu, Cantik

“Apa aku cantik?”
“Iya dooooong!!!”

“Apa itu yang membuatmu jatuh cinta padaku?”
“Pastilah, Honey....”

“Kenapa aku bisa cantik?”
“Emangnya kenapa?”

“Karena aku kaya!”
“Lho?!”

“Aku bisa seenaknya ngabisin duit buat permak tubuhku yang aslinya biasa-biasa saja, mempercantik wajahku yang sebetulnya sangat standar, dan memancungkan hidung pesekku di meja operasi...”
“Emmm....”

“Kalo aku tidak kaya, pasti aku tidak cantik”
“Eh...”

“Dan kamu pasti tidak cinta aku!”



Mesra tapi Pelit

Sialan!
Suara dua sejoli itu benar-benar berisik; tertawa cekikikan sambil sesekali kulihat mereka saling mencubit hidung. Huh, sok mesra! Aku muak melihatnya. Aku jadi cepat-cepat pengen keluar dari sini. Tapi mangkuk baksoku masih utuh.
Ya, aku muak lihat orang mesra. Aku iri sama mereka! Nggak ada cowok yang mau pacaran sama cewek jelek kayak aku; cewek berkulit gelap, gendut, pendek, jerawatan lagi! Mereka semua menolakku!
Si cewek menarik tisu gulung, mengelap sisa kuah bakso di bibir si cowok.
Mereka beranjak.
“Berapa, Bang?”
“Semuanya dua puluh empat ribu, Mas”
“Bayar sendiri-sendiri aja, Bang....”
Si cowok membuka dompet, Si cewek merogoh tas.