Halaman

kontras

Aku menyebutmu sombong
namun aku juga sama; dengan kesombongan yang berbeda
kita berebut idealisme
tanpa jenuh menggembar-gemborkan kebenaran; yang kita usung sendiri-sendiri
kamu keras kepala
begitupun kepalaku

tak mau pecah dengan doktrin-doktrinmu
sesat, kataku
kamu mencibir keyakinanku
tentang hal-hal yang kuanggap layak untuk hidupku
akupun hampir-hampir muntah dengan jalanmu yang tidak biru
yang dulu kuharap membirukan ruangku
aku tersudut olehmu
akupun ingin menepikanmu
jauh dari hidupku
biar gersang dulu
biar aku menyemainya dengan waktu


sepenggal kenormalan

Aku tak ingat bagaimana aku dilahirkan
sepertinya tiba-tiba saja aku menjadi tua
tapi selalu aku merasa tak ada yang berubah dari waktu ke waktu
aku hanya menjelma tua
dengan rangkaian lilin yang menemani setiap tahun
seolah lilin-lilin itu bersiap melumatku
habis!!!!

sepertinya aku masih seperti sepuluh tahun lalu
saat aku dianggap pantas untuk dimaki dan dicaci
mulutku seperti disumpal tak boleh komentar
tak ada pembelaan
hanya rasa kasihan
saat itu aku diam, lalu diam-diam menangis
entah di kamar atau di sudut-sudut gudang
lalu kembali bertampang seolah tak ada apa-apa
sepenggal kenormalan, waktu itu

Aku tak ingat bagaimana waktu merubahku menjadi dingin, hampir-hampir beku
saat aku bersiap menutup telinga untuk setiap kata-kata yang terlontar
saat aku bersumpah untuk tak pernah meneteskan air mata
hanya karena hal-hal yang sakit....
Aku tak ingat bagaimana aku dengan enteng menebar duri pada si pesakitan
pada raga-raga, jiwa-jiwa yang ganjil
dan aku tak pernah merasa bersalah
karena dibelakang menyisakan kepuasan
sepenggal kenormalan bagiku, sekarang



bagaimana bisa

Aku bahkan tidak bisa benar-benar melupa
apalagi belajar membenci
yang ada aku hanya berkata 'iya' untuk hati yang munafik
aku bahkan terlalu lemah, selemah-lemahnya keadaan
kemudian membatu
berkali-kali dihunjami rasa sakit yang samar
hingga rasa sakit itu perlahan menjadi candu

aku lupa bagaimana harus menangis untuk segenap kekecewaan
aku lupa bagaimana harus meledakkan amarah
aku lupa bagaimana aku harus bercerita pada dunia yang dulu aku percaya
karena sekarang dunia adalah pembohong terbesar
yang bersiap menampar setelah sedetik lalu menghujani pujian untukku
kata-kata hanya kata-kata
yang diperdengarkan, lalu diterbangkan angin tanpa jejak
entahlah, jantungku nampaknya sudah berkarat
atau mungkin telah menjadi serpihan seperti habis dilumat
habis sudah!

Miss “Ihik-ihik”

Pernah ngerasain punya teman yang nyebelin nggak? Bukan nyebelin sih, tapi super duper nyebelin very much! Kira-kira kalau ada perlombaan orang paling nyebelin, kayaknya bakalan bersaing ketat sama Jeng Kelin, ratunya makhluk nyebelin yang sering muncul di salah satu acara televisi swasta.
Manusia nyebelin yang satu ini sebenarnya seratus persen waras, sehat wal-afiat fiddunya wal akhirat, mengenal nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia juga. Soal wajah lumayan lah, antara cantik dan nggak cantik alias rata-rata manusia gitu. Penampilannya pun oke punya, setidaknya nggak bikin belekan mata yang melihatnya. Ya, setidaknya itulah nilai rapor bagian plusnya yang berhasil kurekap selama berabad-abad menjadi teman sekosnya, yang alhamdulillah sekamarnya juga.