Halaman

stagnant

langit, bumi, udara, angin, laut biru..
mungkin punya semburat baru dari sekedar geliat tahun lalu
dan langitku, bumiku, udaraku, anginku, laut biruku..
semua yang terjamah oleh rasaku
tertawa sama
merutuk sama
menangis sama

tak lebih sedap dari setengah masa yang berlalu
bahkan makin kian tambah keruh
seperti alamku diaduk oleh bencana
petaka...dosa...durhaka...
ya, ya, ya,
terngiang gaduh di telinga
tanganku coba menepis tamparan kata
tapi sudah kena!
plak!!!!
otakku berhamburan
kusut, tercecer dalam dilema
"SAMA"
aliran konservatif meraja
aku tertekuk

Ambivert

Di pusaran ini aku tertawa
di lingkaran itu aku terdiam
di balik dinding tebal aku seperti kehilangan akal
di dalam ruang k0s0ng,benda-benda mati mengenaliku

di lingkaran ini aku menggila
menyebarkan misi tawa
berceloteh menebar busa-busa
di pusaran ini jua aku mematung
menyematkan setiap rahasia..sendiri..
Sama seperti di lingkaran itu
lalu aku kembali ke dinding tebal yg memahamiku
dan benda2 mati yg membaca tingkahku

Pemilu presidenku

Bisa ku rasakan air ludah yg muncrat di layar televisi
menempel berhari-hari
bahkan makin menebal saja
sementara telinga mendadak bisa berbicara
bosan..bosan..,katanya

rentetan kalimat yg terucap berjuta-juta
berkali-kali disiarkan dalam berita
sedang 0tak masih mencoba percaya
akan janji yg dirasukkan ke hati rakyat melarat
sem0ga bukan hanya mimpi belaka,bisiknya
beberapa waktu kemudian,
aku sadar layar televisiku makin buram
aku termenung, merenung,
karena aku juga punya pengharapan seperti mereka
tapi aku ragu,
apa aku bisa ikut menjadi algoj0 di juli nanti?

gambar

hampir dua puluh empat jam yang lalu
mata dan jari-jariku berselancar mencari keindahan dalam gambarmu
sepotong aku, kamu, dan kita berdua
hmmmm,, aku tergoda
pagi buta itu kupoles lukisan kita yang dicipta dari benda elektronik
sederhana, namun tampak agung di hati

senyum damai kita menatapku yang agak kacau
walau toh senyum itu membisu
tapi kau tampan
akankah kau juga bilang aku cantik?
gambar itu menjadi pintu gerbang dari lantai numerik tempat jari-jariku menari
harapku, inginku,
saat kita berjumpa pagi tadi
ku ingin kau melihatnya
tapi ku lupa
begitu juga malam ini, ternyata ku lupa lagi
juga tak biasa-biasanya kau tak menyentuh benda itu?
hmmmm, semoga besok kita berdua ingat
dan kubayangkan senyummu merekah
memberiku cerah