Kamu

Kamu fajar
kamu subuh
kamu cahaya di siang terang
kamu senja remang yg sejuk
kamu malam penuh kerlip
kamu ketenangan di larutnya gelap

kamu segenap hari
kamu seluruh minggu,bulan dan tahun
kamu denting2 penunjuk waktu di dinding
kamu makna seluruh masa
kamu benderang
menyuguhkan kilau terang
kamu ada...
Kamu tiga perputaran bumi pada mentarinya
kamu untuk kemudian hari
kamu selamanya
Kamu cinta...

Antonim

Dua kepribadian membentuk simetri
dalam pola-pola yang tak tertebak


selaksa..
Dua kutub bertempat di satu jiwa
berebut musim yang sama
di balik binar-binar
lalu sejenak terkubur oleh diam
di pemakaman sepi nurani
antonim mencari makna
kemana rasa kan ditempatkan dalam cawan hati
sedang lakon-lakon itu tetap menggelar pertunjukan
seiring arah
kemana angin kan dengarkan bunyi

Epilog Kenangan

Ruas jalan ini
pernah menyimpan cerita
walau angin telah membingkainya
seiring kepak sayapku terbang
tak ayal kenangan membias memori
rupanya...


Masih tersusun rapi seperti terakhir ku tulis epilog prosa itu
walau jalan tak sepanjang seperti dulu
namun kecewa tetap tak mampu kuredam
tuk sekedar mengingkari
apa yang pernah hadir
dan yang telah pergi

Memar samar

Mungkin aku tampak sangat tak peduli
tapi aku lebih dari sangat peduli itu
mungkin aku hanya bisa diam
tapi aku sedang ditampar



hanya..
Antibodiku terlalu kuat untuk(nya) membunuhku
tapi memar-memar itu pilu
merusak jaringan atas,samping,depan,belakang,dan bawah sadarku
sampai kapan ini akan rapi?
Sampai aku benar-benar mati?
Rapuh sendiri?
Lalu apakah ada disana-sini yg menyesaliku, meratapiku..
Setelah lukaku...
Manusia-manusia pelindungku tampak samar..
Dalam angan-angan mereka sendiri..

Acak

aku pergi menyiapkan keterasingan
sepenggal 'nekat'
setumpuk niat
bersiap menjadi tuli
pun mulutku terbungkam
walau dalam hati tetap meracau
persetan dengan bla bla bla!!

Aku bergeming dalam duniaku sendiri
melupakan dan terpaksa mengubur tuk lupa
acak..acak..
Mengurai otak..
Apakah selaput otakku semakin hijau atau memerah?
Semakin menumpuk beban dan benci
memenggal sisi diri manusiaku